Sabtu, 11 Oktober 2014

Ceritanya Cerita Pendek

BINTANG JATUH
Pulang magang aku langsung ke stasiun, paman sibuk sekali malam ini. Lagi pula aku ingat betul caranya pulang. Sebenarnya ini juga gara-gara jemuran. Hatiku gelisah terbayang ada maling yang mungkin saja kebetulan melirik pakaian indahku yang menggantung.  
***
            Kira-kira kejadian hebat berlangsung setelah setengah perjalanan di krl (kereta listrik), aku tahu itu karena mataku benar-benar terjaga saat itu—saat ia tiba. Seolah adegan slow motion di film, gadis itu melangkah masuk bagai bintang jatuh mendarat sempurna. Dia seusia denganku rambutnya panjang, mukanya oriental, dan menawan, benar-benar mengganggu konsentrasiku yang sedang celingukan di kereta. Di belakang, ibunya menyusul sambil menenteng tas. Lalu moment itu tiba, matanya bertemu mataku, indah sekaligus jadi salah tingkah. Aku grogi, makin grogi lagi saat dia menuju ke arahku.
Tempat duduk krl sedang padat malam ini, akhirnya dia hanya berdiri berdekatan dengan ibunya yang berdekatan dengan posisi dudukku. Aku semakin gelisah, pikiranku menerawang-nerawang: apa yang terjadi jika ini atau itu yang aku lakukan. Akhirnya setelah plonga-plongo tak berguna dan ditambah kekuatan bulan, keberanianku bulat. Tuhan izinkan Jakarta menjadi saksi.
Akhirnya…
Niat muliaku
yang menegangkan
gagal.
Terlambat, om-om gendut yang berada di seberang dudukku tiba-tiba berdiri lebih cepat mempersilahkan tempatnya untuk si ibu dan anak. Kecut. Untuk menutupi malu karena sudah terlanjur berdiri aku pura-pura saja meregangkan badan. Iya, menyedihkan, dan jangan-jangan…. Ah, ternyata benar gadis itu tahu kejadian bloon apa yang barusan terjadi. Gadis itu tertawa geli melihat aksi gagalku yang ditutup tidak rapi dengan gerakan ‘meregangkan badan’ yang ala kadarnya, meski begitu, ada senyumnya.
 Lalu kejadian yang tidak terduga terjadi, secara ajaib tempat dudukku yang sempat kosong beberapa detik ditinggal berdiri empunya yang gagal keren tiba-tiba sudah terisi, ibu-ibu kantoran berkostum serba hitam sudah duduk di atasnya. Tunggu dulu, dari mana datangnya ibu-ibu kantoran ini? Memangnya bagaimana aku menyadarinya jika bermenit-menit fokusku hanya untuk si Bintang Jatuh. Halah.
“Nggak papa lah dek, olahraga biar kuat,” saut ibu-ibu kantoran itu yang paham dengan ekspresiku.
“Err, iyya bu olahraga berdiri malem-malem di kereta,” jawabku sedikit kaget.
“Harus ikhlas, biar nanti dibales di akherat,” lanjutnya sambil bersiap tidur.
Aku cuman diam, melangkah tak tentu lalu menggenggam erat pegangan di bawah atap krl. Suasana kembali tenang, sambil membenarkan gelagatku yang menyedihkan aku mencoba kuat. Kebetulan atau rencana Tuhankah? bisa-bisanya aku tak sadar melangkah dan berhenti di sebelah buntelan lemak perusak image, om-om gendut tadi. Beliau, eh ‘beliau’ terlalu bagus untuk perusak. Tapi yasudahlah. Beliau sepertinya bersiap turun di stasiun berikutnya. Lalu suara seraknya menegurku sebelum aku berhasil menghindarinya, “Sudah bagus kau punya niat, tak usah kau ragu lah nak. Dia memang cantik, kurang cepat saja kau, hahaha..”  Jleb.
‘Bbbzzzhh’ pintu krl terbuka. “Nah aku turun dulu, selamat malam nak,” om gendut itu meluncur keluar, mulus bagai agar-agar kenyal yang kelebihan air.
Aku bengong. Aku garuk-garuk kepala.
Setelah semua hal memprihatinkan itu, Tuhan sepertinya kasihan kepadaku Dia menjawab doaku yang diam-diam kuselipkan dalam hati.
 “Duduk dek!” suara wanita, bukan si gadis—itu suara ibunya.
“Saya tante?” tanyaku sambil tolah-toleh, mencari-cari orang lain yang mungkin juga dipanggil ‘dek’.
“Emangnya siapa lagi yang lagi olahraga berdiri malem-malem di kereta?” gadis Bintang Jatuh itu menyaut sambil cekikikan, wow dia barusan bicara padaku. 
Memang, pas om gendut itu turun banyak penumpang lainnya juga turun, dan sedikit penumpang baru yang naik, walau lebih renggang dari sebelumnya krl tetap padat. Hanya saja, tempat itu kemudian kosong, tempat di sebelah Ibunda Bintang Jatuh.
“Eh, apa, eh iya,” gelagat mainstream cowok waktu ditegur cewek yang  memikat hatinya. Iyahh grogihh sekalihh. Lalu sambil malu-malu mau, aku duduk dengan diawali Bismillah dan dilanjutkan Alhamdulillah.
“Sendirian aja dek?” tanya ibunya lagi.
“Iya te,” aku berusaha se-rileks mungkin agar terlihat cool di depan anaknya.
“Bukan asli Jakarta yah?” terbongkar. Ketauhan logat ku yang medok.
“Eh hehe, iya te.”
“Kok iya iya aja. Aslinya mana?” masih si ibu, padahal aku berharap anaknya yang melanjutkan.
“Aslinya saya pengen anaknya tante, eh eh. Maksudnya asli Banyuwangi te. Aduh” keceplosan yang luar biasa tolol. Ibunya kaget, lalu kembali tersenyum ramah. Kemudian, diam sesaat. Si anak menahan tawa mendekap mulutnya dengan tangannya.
Hening, cukup hening kecuali suara mesin krl yang bersorak rata tapi gagah.
***
 “Makasih yah bang. Hihi,” gadis itu akhirnya bicara lagi. Sambil memiringkan kepalanya agar dapat melihat dan terlihat, wajahnya cantik masih tergenang sisa senyuman.
“Eh, makasih kenapa?” jangan bilang—
“Sudah mau  kasih tempat duduknya walau nggak jadi, hihihi,” ah, sudah kuduga.
“Oh, itu. Oh iya. Hehe, sama-sama,” aku gagal keren.
Ibu dan anak itu kemudian saling merangkul sambil saling tertawa.
“Dari mana dek, kok malem-malem sendirian?” ibunya lanjut bertanya, lagi.
“UI.”
“Abang kuliah di UI?” si anak langsung menyambar.
“Nggak, cuman bantuin paman di teater. Sekalian liburan aja sih.”
“Teater?.....Ooh..Oh acara teater itu?” seolah-olah hal yang luar biasa baru saja kuucapkan. Tiba-tiba tiba-tiba (sengaja diulang) dia langsung pindah tempat ke sebelah kanan ibunya dan sebelah kiriku. Di sampingku. “Aku tau aku tau bang, acara itu kan, teater itu kan. Aku liat looh..”
Sejak kalimat itu, kita makin hanyut mengobrol dan ketawa-ketawa kecil. Lucu, ketemu di krl dan langsung banyak cerita. Aku jadi ingat pesan guru waktu SD beliau yang aku lupa namanya berpesan agar tidak berbicara dengan orang yang nggak dikenal. Seandainya bertemu guru itu, aku harus mengatakan padanya “Ibu guru… untuk kali ini.. Berbeda.” Sambil mengangguk mantap.
“Jadi abang baru pertama kali ke Jakarta dan uda berani keluar malem sendiri, waaooww.”
“Biasa aja.”
Ceilah bang gaya bener. Hihihi. Terus terus gimana cewek Jakarta sama cewek Banyuwangi bang. Cantik maaaana ?”
Sudah jelas lebih cantik calon ibu anak-anak ku. Kamu,” hatiku meraung. Tapi jelas lisanku tidak melepas itu.
“Kepo,” cuman itu yang keluar.
“Yah abang aaah.”
Aku menaikkan bahu.
***
“Hmm. Aku boleh tanya gak.…”
“Tanya apa bang ?”
 Ini bukan sesuatu yang buruk, ini seharusnya wajar untuk aku katakan. Aku sadar mungkin memang terlalu cepat, tapi naluri ku sudah melambung. Ini rumit dan susah dimengerti, perasaan keingintahuan ini muncul saja tiba-tiba.
“Anu.. jadi..”
Gadis di hadapanku ini entah kenapa tetap terlihat cantik sekalipun dengan raut penasarannya.
‘Bbbzzsstthh’ Pintu krl tiba-tiba otomatis terbuka (lagi), kereta berhenti sejenak. Berbeda, jantungku justru semakin kencang berdebar.
“Eh, btw abang turun dimana?” dia menyela, sebelum aku sempat melanjutkan.
“Tebet,” aku masih fokus menyusun kata-kata yang pas untuk dilanjutkan. Sampai tidak menghiraukan sekitar.
“Loh.. Ini bukannya Tebet yah?”
 Buyaarr.
***
“HAH ? serius. Aduh. Gimana yah…?”
“Buruan turun bang, ntar nutup loh pintunya.”
 Waktu memang kadang-kadang menyebalkan. Begitu cepat berlalu saat semuanya indah. Aku buru-buru lari turun dari krl sampai melupakan semuanya. Sampai menelan kata-kata yang sudah siap kususun. “Boleh minta pin BB nya gak?” sesederhana itu. Cemen.
 Hilang sudah. Aku berdiri di luar kereta, membalas lambaian tanganya melepas pertemuan singkat ini. Terus ? Sudah ?
Belum
Aku baru ingat.
“Sampai ketemu lagi di teater bang!” Ucapnya setengah berteriak tadi.
 Lusa dia akan datang di acara teater paman.
Iya, kau akan datang. Kau yang bahkan aku baru ingat aku tak tau namamu. Sampai bertemu lagi lusa. Bintang Jatuh.


1 komentar: